Kamis, 13 Maret 2014

Kargil: Konflik Nuklir antara India-Pakistan





            Interaksi di antara negara-negara dalam sistem kontemporer terdapat banyak dan beraneka ragam. Interaksi itu sering digolongkan menurut bidang isu, seperti perdagangan, keamanan internasional, turisme, kerjasama teknis, pertukaran kebudayaan, pengendalian senjata nuklir, dan sebagainya (Holsti, 1998: 169). Konflik merupakan salah satu bentuk interaksi yang kerap terjadi di antara negara dalam sistem internasional ini. Konflik India dan Pakistan bisa dikatakan menjadi salah satu yang tidak kunjung menemukan titik temu perdamaian yang stabil. Konflik antar keduanya sangat volatil; walaupun dialog dan komunikasi antara India dan Pakistan tetap berlangsung normal, sedikit saja terjadi perkembangan negatif pada isu-isu yang sensitif, konflik bisa segera pecah. Konflik 1999 antara India dengan Pakistan di dekat kota Kargil dalam memperebutkan Kashmir adalah bentrokan militer pertama antara dua kekuatan yang memiliki senjata nuklir sejak Perang Sino Soviet-1969 (Hoyt, 2009: 144). Perang dan damai selalu bergantian mengisi posisinya masing-masing. Kargil adalah peristiwa penting bukan karena lamanya atau jumlah korban tetapi karena mengandung resiko yang sangat nyata dari eskalasi nuklir.


            Konflik Kargil merupakan peristiwa penting dalam sejarah nuklir internasional. Konflik Kargil diwarnai dengan kedua negara baik India maupun Pakistan sering melakukan adu kekuatan militer melalui uji coba senjata nuklir. Dalam Teori Politik Internasional, Kenneth Waltz mengidentifikasi bahwa negara dapat mengimbangi ancaman. Dalam dunia modern, negara-negara beroperasi dalam sistem "pertahanan diri" di mana ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Sebagian besar negara yang lemah dan kecil, mengalami kesulitan memenuhi tantangan dari negara yang kuat, karena negara-negara lemah secara definisi terbatas dalam kemampuan mereka untuk membangun militer yang cukup besar dan dilengkapi dengan baik.
            India dan Pakistan merupakan dua negara besar yang mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi kawasan Asia Selatan. Kedua negara ini tidak mau ketinggalan dalam bidang militer, jika salah satu negara memperkenalkan senjata baru, negara yang satu pun akan berbuat demikian. Hal juga ini terjadi akibat dari ambisi kedua negara untuk mempertahankan hegemoni mereka di kawasan dan kedua negara tidak mau ketinggalan dalam bidang militer yang berujung pada munculnya security dillema, sehingga dari kedua ngera muncul persaingan atau perlombaan senjata (arms race). Karena jika salah satu negara berhenti melakukan penyeimbangan power, maka negara tersebut akan tertinggal secara kualitatif dan kuantitatif. Sehingga hegemoni mereka juga akan tereduksi. Dan equilibrium-pun tidak akan tercapai, yang tercapai hanya satu kekuasaan hegemon atau yang disebut unipolar (Little dan Wohlforth, 2007: 26).
Sebenarnya hal ini sesuai dengan teori Balance of Power (BoP) dimana ketika ada suatu negara yang dianggap mengancam, maka negara yang merasa terancam tersebut akan balik mengancam. Selain itu mengapa konflik India-Pakistan terjadi karena kedua negara berusaha untuk mencapai kepentingan nasional (National Interest) masing-masing negara. Dalam hal ini adalah terkait dengan kepemilikan wilayah Khasmir. Pakistan selalu berusaha mengimbangi prestasi persenjataan nuklir India sebagai pesan kepada negara tetangganya tersebut untuk tidak melakukan pelanggaran teritorial, agresi, tindakan provokatif, dan persengketaan terhadap isu-isu internasional dan kawasan. Tindakan yang dilakukan Pakistan tersebut adalah dalam rangka melindungi kepentingan nasionalnya terhadap kemungkinan invasi atau intervensi negara asing, terutama India. 

            Memang jika dilihat dari asal usulnya, konflik dilakukan untuk menyeimbangkan kekuatan negara-negara kuat di kawasan Asia Selatan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan konflik perebutan wilayah belum terselesaikan sampai sekarang, hal ini berujung pada perlombaan senjata kedua negara yang sama-sama ingin menjaga dominasi dan hegemon di kawasan. Jika dianalisa dapat kita lihat  bahwa terdapat dua bentuk ancaman keamanan utama India-Pakistan: konflik konvensional dan perang nuklir. Di satu sisi, konflik konvensional sangat mudah tersulut, sementara di sisi lain perang nuklir adalah suatu pilihan yang sangat berat. ”Harga” yang  harus dibayar dari perang nuklir yang terlampau mahal dapat memunculkan ”paradoks stabilitas-instabilitas” yang menyebabkan kedua negara menganggap konflik konvensional sebagai pilihan yang ”terjangkau” dalam menyerang lawannya.

            Namun, apabila pemimpin kedua negara tidak segera mendinginkan emosi mereka, dikhawatirkan tragedi Hiroshima dan Nagasaki pada setengah abad silam akan kembali mewarnai sejarah perjalanan kehidupan manusia di muka bumi. Dunia internasional akan melihat terulangnya peristiwa mengerikan yang pernah menimpa Jepang, bahkan mungkin akan lebih dahsyat kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh perang nuklir di awal milenium ketiga ini. Dalam hal ini tindakan peaceful settlement seperti mediasi dan konsolidasi perlu diadakan. Hal ini dapat dikaitkan dengan pendekatan Transcend milik Johan Galtung (2004)  yang diungkapnya dalam bukunya yang berjudul “Trancend and Transform” dimana pendekatan ini menuntut penyelesaian konflik dengan dialog yang mendalam dan juga mencari penyelesaian konflik dengan realita. Mediasi dan negosiasi saya rasa menjadi cara yang tepat untuk meredakan ketegangan diantara kedua negara. Mediasi dapat menyelesaikan masalah dengan melakukan dialog diantara para pihak yang terlibat untuk memetakan konflik dan memperolah legitimasi. Dalam mediasi ini diperlukan mediator yang dipastikan akan bersikap netral dan tidak mempunyai kepentingan antar kedua negara yang terlibat. Sedangkan negosiasi diperlukan agar diantara kedua pihak dapat dilakukan trust building yang dapat menggali akar masalah dan membangun empati dari pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi, karena negosiasi bisanya dapat melibatkan lebih dari kedua negara terlibat namun juga para third parties yang terdiri dari mediator, fasilitator, dan tentunya intervenor. Negosiasi yang menurut saya perlu dicapai dalam konflik yang melibatkan India dan Pakistan ini diantanya adalah:
1.      Mengurangi penderitaan  akibat adanya kekerasan, dan penderitaan akibat adanya ketidakseimbangan ekonomi,
2.      Membangun perdamaian yang sifatnya langsung dan berstruktur untuk meningkatkan kerjasama antar kedua negara,
3.      Menekankan pemikiran bahwa “what you want for yourself also be willing to give to other”, dalamhal ini meningkatkan penghargaan terhadap HAM, memperoleh keuntungan bersama, dan menjaga harga diri masing-masing pihak yang bertikai
Selain itu juga perlu diadakan rekonsiliasi agar setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan untuk bernegosiasi, rasa saling percaya dapat dibangun dan upaya balas dendam dapat dihilangkan sehingga terciptalah kembali lingkungan yang harmonis di kawasan Asia Selatan.
Sebagai penutup, walaupun berbagai usaha dan desakan masyarakat dunia berhasil menghalang peperangan meletus antara kedua-dua negara ini pada tahun 1998, namun hal ini tidak berarti risiko peperangan antara India-Pakistan telah reda. Sebaliknya uji coba senjata nuklir yang sering dijalankan oleh kedua-dua negara mampu membuka ruang kepada meletusnya kembali ketegangan. Menurut saya sebagai senjata pemusnah masal, keberadaan nuklir sangat krusial bagi perkembangan dunia internasional. Daya destruktifnya yang masif membuat negara pemilik nuklir harus berpikir panjang sebelum menggunakan senjata ini, terlebih negara yang dihadapi adalah negara yang sama-sama memiliki kekuatan nuklir.